BAGAIMANA GAYA BELAJAR ANAK ANDA?

www. pustakanilna.com


Albert Einstein kecil suka melamun. Guru-gurunya di Jerman mengatakan, dia tidak akan pernah berhasil di bidang apapun.

Winston Churchill sangat lemah dalam pekerjaan sekolah. Dalam berbicara dia agak gagap dan cadel. Tapi akhirnya saat dewasa ia jadi pemimpin besar dan orator ulung.

Thomas Alva Edison pernah dipukul di sekolah dengan sebuah ikat pinggang kulit karena gurunya menganggap dia “mempermainkan” karena mengajukan begitu banyak pertanyaan. Dia sering sekali dihukum sehingga akhirnya ia dikeluarkan dari sekolah.

Untunglah ibu Edison adalah seorang perintis proses belajar yang sejati. The World Book Encyclopedia menulis, “Dia memiliki pengertian yang tidak lazim pada waktu itu bahwa belajar dapat menjadi kegiatan yang mengasyikkan. Dia membuat permainan untuk mengajarinya – dia menyebutnya eksplorasi- dunia pengetahuan yang mengasyikkan…”.

Begitulah. Einstein, Churchill, dan Edison ternyata memiliki gaya belajar khas yang berbeda dan tidak sesuai dengan gaya belajar yang diterapkan di sekolah-sekolah mereka. Akibatnya sistem sekolah pun cenderung “menolak” mereka.

Lihat pula anak-anak “nakal” di kelas-kelas kita dahulu. Mereka selalu membuat gaduh, mengganggu teman-teman lain, atau membuat berbagai keonaran. Nilai mereka memang rata-rata di bawah standar. Persoalannya, mengapa mereka gagal?

Amati juga anak-anak kita. Ketika disuruh belajar, dia nggak mau diam. Baru saja duduk, udah melirik ke kiri kanan, lalu loncat dan berlari-lari lagi. Banyak orang tua jadi frustasi dan merasa gagal. Persepsinya, anak-anak ini nggak mau belajar membaca. Susah diatur.

Lain lagi istri saya. Kalau saya mau menjelaskan sesuatu kepadanya, hanya dengan lisan saja, dia langsung protes. “Nggak nangkap” katanya. Baru setelah saya ambil kertas, mencoret-coret maksud saya di kertas dan dia melihatnya, dengan mudah sekali ia memahami maksud saya.

Apa arti semua ini? Ya, itulah gaya belajar. Setiap orang memiliki kepekaan saluran belajar yang berbeda-beda. Nggak ada yang sama.

Inilah yang kemudian jadi masalah di kebanyakan sekolah ataupun di rumah-rumah. Umumnya sekolah mengasumsikan gaya belajar setiap orang itu identik, sama. Para guru pun akhirnya mengajar dengan cara yang sama. Akibatnya, bisa dipastikan, hanya kurang dari 20% saja yang benar-benar bisa menerima pelajaran dengan baik. Mereka inilah yang akhirnya memiliki nilai dan prestasi yang baik di sekolah. Sedangkan sisanya gagal.

Ya, inilah anehnya. Mungkin hanya sekolah, satu-satunya sistem yang menolerir “kegagalan”. Kita ‘kan tahu, seluruh sistem terbaik di dunia ini, selalu diprogram untuk berhasil. Semua sistem penerbangan berupaya keras agar 100% selamat. Seluruh laporan keuangan perusahaan dirancang agar 100% benar. Dokter tidak diizinkan melakukan kesalahan walau sekecil apapun.

Tapi lihatlah sekolah-sekolah kita. Seolah sistem pendidikan kita diprogram untuk gagal, atau minimal mengizinkan kegagalan. Hanya 20% sampai 30% siswa saja yang unggul. Standar kelulusan begitu rendah. Bahkan banyak guru sengaja membuat soal-soal yang sukar sehingga dia senang ketika ternyata anak-anak didiknya “kecewa” karena ternyata soal yang keluar diluar perkiraan mereka.

“Sistem yang ada melahirkan hasil yang ada. Jika diinginkan hasil yang lain, sistem harus diubah” kata Sir Christopher Ball dalamMore Means Different.

Langkah penting

Seorang guru atau pun orang tua yang peduli dengan anak-anak didiknya, mesti mengerti dan memahami keunikan gaya belajar setiap orang. Temukanlah apa dan bagaimana gaya belajar mereka dan kemudian layanilah sesuai dengan gaya belajar mereka.

Saran Barbara Prashing, dalam The Power of Diversity, “Kunci menuju sukses belajar dan bekerja adalah menemukan keunikan gaya belajar dan gaya bekerja Anda sendiri”.

Gaya belajar kita merupakan kombinasi dari 3 faktor:
Pertama, bagaimana kita menyerap informasi secara lebih mudah. Periksa jalur mana yang lebih enak dan lebih mudah, apakah dengan cara melihat, mendengar atau bergerak/menyentuh (visual, auditori, atau kinestesis)?

Kedua, bagaimana biasanya kita mengatur dan memproses informasi? Apakah lebih didominasi otak kiri atau otak kanan, analitis atau global. Mereka yang “berotak kiri”, lebih mampu menyerap informasi secara logis dan linear. Lain halnya yang “berotak kanan”. Mereka lebih senang menemukan gambaran menyeluruh terlebih dahulu, dan senang dengan prestasi yang melibatkan visualisasi, imaginasi, dan intuisi.

Tiga, kondisi yang mempengaruhi kemampuan belajar kita.
Misalnya lingkungan fisik (suara, cahaya, suhu, tempat duduk, dan sikap tubuh), kebutuhan emosional, ataupun kebutuhan sosial (menyendiri atau bersama rekan). Maka tidak heran ada sebagian orang bertipe “orang pagi”, sebagian lagi bertipe “burung hantu”. Hasil penelitian menunjukkan para siswa lebih mudah belajar ketika sesuai dengan “waktu” mereka.

Bagaimana menemukan gaya belajar yang disukai para siswa? Jalan paling mudah adalah dengan bertanya. Tapi juga bisa dengan mendengarkan suara mereka. Atau melihat respons-respons mereka.

Pelajar Visual, lebih suka melihat. Bacakan padanya resep masakan, maka dia ingin melihatnya sendiri. Umumnya mereka cenderung teratur, rapi dan berpakaian necis.

Pelajar Auditori, biasanya tidak suka membaca buku atau buku petunjuk. Dia lebih suka bertanya untuk mendapatkan informasi. Kalau dia memahami sebuah informasi dia sering berkata, “Saya dengar apa yang Anda katakan”.

Sedangkan Pelajar Kinestesis selalu ingin bergerak, tak betah duduk lama.

Bahasa Tubuh juga menunjukkan Gaya Belajar mereka (Jeannette Vos):

Seorang Pelajar Visual biasanya duduk tegak dan mengikuti penyaji dengan matanya.

Seorang Pelajar Auditorial sering mengulang dengan lembut kata-kata yang diucapkan penyaji, atau sering menganggukkan kepala. Pelajar ini sering “memainkan sebuah kaset dalam kepalanya” saat ia mencoba mengingat informasi. Jadi mungkin ia akan memandang ke atas saat ia melakukannya.

Seorang Pelajar Konestesis sering menunduk saat ia mendengarkan.

Sedangkan seorang Pelajar taktil suka bermain-main dengan benda saat ia mendengarkan, mengklik pulpennya, atau bermain dengan kertas sambil mendengarkan seseorang.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar

Postingan Populer