La Masia: pabrik pemain Barcelona

BBC News, 16 Februari 2011 - 11:14 GMT


La Masia

La Masia menjadi tempat pemain kelas dunia dicetak

Rumah bata coklat yang kecil dan sederhana bergaya Katalunia ini berdiri tanpa kemewahan ketika pendukung Barcelona berbondong-bondong bergerak menuju Nou Camp.

Ini adalah rumah -La Masia- yang menjadi dasar kesuksesan Barca. Di sinilah DNA pemain dan filosofi permainan -menekan, menguasai bola, menyerang- dicetak.

Tiga finalis Pemain terbaik dunia FIFA 2010, Lionel Messi, Andreas Iniesta dan Xavi Hernandez, dan sebagian besar anggota tim inti Barcelona, adalah hasil didikan La Masia.

Salah satu pemain itu adalah kapten Arsenal Cesc Fabregas, yang akan berhadapan dengan mantan satu kelasnya di babak 16 besar Liga Champions pada hari Rabu (16/02).

Nama-nama besar yang menimba ilmu di La Masia memang mengagumkan dan juara Liga Spanyol ini berniat mempertahankan alur produksi pemain berbakat di fasilitas baru yang modern yang akan dibuka bulan September mendatang.

La Masia sendiri terletak tidak jauh dari Nou Camp dan disinilah pemain muda berbakat ditempa untuk menjadi pemain kelas dunia.

Di La Masia, di dinding ruang makan terpampang foto upacara kelulusan kapten Barcelona Carles Puyol dan pelatih Pep Guardiola.

Sementara itu, di dapur seorang juru masak menyapa dengan ramah, dan para pemain bisa menyelesaikan pekerjaan rumah mereka di ruang belajar di tingkat dua.

Suasana di La Masia memang terkesan merupakan perpaduan antara tradisi dengan harapan, suasana menyenangkan dan kebiasaan.

Terus bersama

La Masia

Para pemain muda terus disatukan dalam akademi dan klub


Memang tidak ada sisi istimewa lain dari tempat ini, tetapi lokasi seluasi 600 meter persegi inilah yang membuat sistem pendidikan pemain Barcelona sangat unik dalam memproduksi pemain bola kelas dunia.

"Tim Barcelona terdiri dari banyak pemain dari La Masia, dan ini merupakan faktor penting dalam sukses kami. Karena kami sudah mengetahui satu sama lain sejak lama," ujar Iniesta kepada BBC Sport.

"Kami tumbuh bersama dengan pandangan yang sama soal sepakbola dan bermain dengan filosofi yang sama."

Dan memang Iniesta, pemain tengah yang dipuja secara luas di Spanyol setelah mencetak gol kemenangan di Piala Dunia 2010, yang menjadi contoh semangat La Masia.

"Andreas adalah salah satu pemain yang bisa menjadi contoh paling bagus untuk menggambarkan program kami di La Masia, karena dia mengunjungi kami dan memiliki hubungan sangat baik dengan kami," ujar direktur La Masia Carles Folguera.

Pada awalnya Andres mengalami situasi sulit di La Masia. Dia orang yang dekat dengan keluarga, tetapi karena keluarganya jauh di Albacete dia memerlukan waktu beberapa bulan untuk beradaptasi.

"Tetapi akhirnya dia beradaptasi dengan baik, dan dia sangat rendah hati meski punya prestasi luar biasa. Di sini kami mengajarkan dispilin, ketertiban, kendali dan kami mencoba menunjukkan bahwa seorang pemain bola bisa menjadi bintang tanpa harus "pamer", tetapi dengan membuat rekan satu tim tampil lebih baik."

Kuasai bola

Kunci keberhasilan Barcelona saat ini adalah filosofi permainan yang lahir sebagai turunan langsung taktik Total Football Belanda yang muncul tahun 19790 an, dan diterapkan secara menyeluruh di klub: mulai dari tim pemain berusia tujuh tahun hingga tim utama.

"Banyak orang mengatakan filosofi kami dimulai dari 'Tim Impian' Cryuff," uajr Folguera.

"Menurut saya filosofi ini lahir dalam upaya mengendalikan permainan dengan terus menguasai bola. Kami memang selalu mencari pemain bukan berdasarkan fisiknya, tetapi pemain yang bisa berpikir bagus, yang siap mengambil keputusan, memiliki bakat, teknik dan lincah. Kekuatan fisik tidak penting."


"Hingga pemain berusia 16 tahun, mereka tidak pernah menjalani lagihan kebugaran hanya berlatih dengan bola" Albert Puig


Enam puluh pemain muda yang sekarang tinggal di La Masia, dan ditarik dari berbagai kota di Spanyol, tidak banyak mencurahkan waktu untuk bermain bola hanya satu setengah jam per hari.

Mereka malah diminta untuk bekerja keras menyelesaikan tugas sekolah dan setiap pemain diharuskan mengikuti kelas tambahan tanpa pembimbing di La Masia setelah pulang sekolah.

Dengan cara ini, mereka yang gagal masuk ke dunia sepakbola profesional bisa memilih masuk universitas atau mencari pekerjaan.

"Di sinilah semua bintang memulai karir mereka," ujar Folguera, sambil mengalihkan pandangan ke foto pemain dunia jebolan La Masia; diantaranya adalah kiper Liverpool Pepe Reina, Xavi dan Puyol.

"Para pemain ini berpikir: 'Saya sekarang sudah aman'. Tetapi itu berbahaya. Kami harus membuat mereka sadar bahwa impian in adalah perjalanan panjang. Kami meminta mereka untuk sabar dan tidak semua akan berhasil.

"Pep Guardiola mau membantu, tetapi tidak semua 48 pemain yang sekarang ada di sini bisa berhasil. Meski demikian, La Masia masih merupakan tempat ideal bagi pemain muda untuk menimba ilmu."

Pendekatan sedikit-lebih baik dalam rejim latihan Barcelona dibuat agar setiap sesi latihan sangat efektif.

"Intinya adalah menciptakan intensitas tinggi dalam sesi itu," ujar koordinator akademi sepakbola klub, Albert Puig.

"Hingga pemain berusia 16 tahun, mereka tidak pernah menjalani lagihan kebugaran hanya berlatih dengan bola. Kemudian kami menambah latihan kebugaran yang selalu disatukan dengan latihan dengan bola."

Tidak mengherankan jika pemain seperti Pedro, yang berasal dari Kepulauan Kanari, dan pemain asal Barcelona sendiri seperti Sergio Busquets dan Gerrard Pique, kelihatan bisa berlari dengan bola yang seolah-olah menempel di sepatu mereka.

Era baru

Tentu saja mereka pernah melakukan kesalahan -dan kesalahan yang sangat buruk- ketika Fabregas diijinkan pindah ke Arsenal, dan Pique bergabung selama empat tahun di Manchester United.

Pique sudah kembali ke kandangnya dengan uang transfer £9,7 juta , namun Fabregas masih di London.

barcelona Tiga pemain Barcelona masuk finalis pemain terbaik dunia FIFA


Mengetahui lulusan La Masia di tim inti Barcelona sangat mudah. Mereka memperlihatkan satu sikap pasti yang mendekati kemalasan, terus menerus mengoper bola dalam formasi segitiga dan bermain satu-dua secara berganda yang membuat lawan, dan juga penonton, kaget.

"Itu tidak hanya mudah terlihat, tetapi juga mudah diterapkan dengan para pemain La Masia," ujar Dani Alves yang berasal dari Brasil. "Mereka memiliki kemamampuan luar biasa dalam menguasai bola dan kita pasti senang bermain dalam tim seperti ini."

Dan La Masia terus memproduksi pemain sekaliber itu.

Pada Bulan Desember 2010 dalam pertandingan terakhir babak grup Liga Champions melawan klub Rusia Rubin Kazan, Andreu Fontas, Thiago Alcantara, Marc Bartra, Jonathan dos Santos dan Victor Vazquez menawarkan secuil formasi generasi Barca yang akan datang.

Barcelona sudah pasti lolos babak grup Liga Champions tetapi tim yang sebagian besar diisi oleh pemain muda ini tampil prima dengan menang 2-0.

Lalu mengapa klub-klub besar Eropa lain tidak meniru model La Masia, yang hanya memakan biaya sekitar seperlima dari uang transfer £50 juta bagi Fernando Torres yang dibayar Chelsea ke Liverpool?

"Klub lain seperti Real Madrid memiliki satu sistem akademi yang bagus juga, bedannya mereka tidak mempergunakan pemain lulusan akademinya," tambah Puig. "Jadi sebenarnya pendidikan para pemin itu belum selesai. Sedangkan kami menyatukan para pemain berbakat kami ke tim inti secara rutin. Jadi itu sama dengan membuat satu Ferrari tetapi tidak pernah dipakai."

La Masia akan ditutup di akhir musim kompetisi 2010-11 dan akan diganti dengan fasilitas baru -berkapasitas 70-80 orang- di Ciudad Deportiva di Sant Joan Despi.

"Kami memang harus pindah. Fasilitas yang baru sangat modern," ujar Folguera.

Akademi sepakbola Barcelona akan bertambah luas dari 600 meter persegi menjadi lima ribu meter persegi; dari dua lantai menjadi lima lantai; dari fasilitas berumur menjadi fasilitas modern. Namun kenangan dan rasa bangga akan terus ada di rumah tembok tua yang sudah dilewati oleh banyak pemain bintang dunia.

Komentar

Postingan Populer